Kamis, 24 November 2011

PEMBELAJARAN METODE OUT DOOR STUDY IN TAI DAPAT MENINGKATKAN MINAT & MOTIVASI BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS 3 SDN KENDANGSARI III SURABAYA

PENDAHULUAN

Minat &  motivasi adalah fariabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi atau cita-cita yang diharapkan seperti yang dikemukakan Effendi (1995) bahwa belajar dengan minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat.
 
Rendahnya minat belajar siswa di SDN Kendangsari III Surabaya  terhadap mata pelajaran IPA selama ini menandakan bahwa pembelajaran IPA kurang menarik. Hal ini terbukti dari setiap hasil analisis pada setiap ulangan harian dan pengerjaan soal latihan di LKS daya serap siswa di bawah 60% (tidak tuntas).


Berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat meningkatkan minat serta prestasi belajar siswa, antara lain dengan pemberian pelajaran tambahan setelah pelajaran sekolah, penyediaan LKS yang dilengkapi dengan sejumlah soal-soal latihan dll, tetapi hasilnya masih belum memuaskan.
 
Dari kenyataan tersebut dapat diduga penyebab mengapa prestasi belajar siswa rendah pada setiap ulangan IPA, antara lain sebagai berikut :
Siswa kurang memahami konsep pengajaran IPA. Jam pelajaran berada di siang / sore hari (masuk siang). Siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas-tugas di rumah. Minat baca siswa terhadap buku teks IPA rendah. Siswa kuramg berani bertanya pada saat proses belajar mengajar atau model pembelajarn guru hanya itu-itu saja (model gunung) menurut Suhardjono dalam Semiloka Sehari tentang PTK. (Suharsimi, Suhardjono dan Supardi, dalam bukunya Penelitian Tindakan Kelas)
 
Dari sejumlah permasalahan tersebut di atas sebenarnya ada satu masalah utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu yang berkaitan dengan minat & motivasi siswa pada pelajaran IPA. Sebagian besar siswa kurang berminat dalam belajar IPA disebabkan guru yang masih menggunakan metode ceramah sehingga materi yang diajarkan menjadi verbal / hafalan. Kita menyadari bahwa salah satu kelemahan metode ceramah jika diterapkan secara murni adalah tidak melibatkan anak didik secara aktif dalam proses pembelajaran akibatnya materi tersebut menjadi kurang menarik dan itu-itu saja (model gunung).
Upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan minat & motivasi siswa pada pelajaran IPA adalah dengan menerapkan pembelajaran Out Door Study In TAI (team Assited Individualization atau team Accelerated Instruction). Karjawati (1995) menyatakan bahwa metode out door study adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Sedangkan Salvin, (1995) metode TAI (team Assited Individualization atau team Accelerated Instruction) adalah model kelompok berkemampuan heterogen . setiap siswa belajar pada aspek khusus pembelajaran secara individual. Anggota tim menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk saling memeriksa jawaban teman sekelompok, dan semua bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban pada akhir kegiatan sebagai tanggung jawab bersama. Diskusi terjadi pada saat siswa saling mempertanyakan jawaban yang dikerjakan. Melalui metode out door study in TAI  lingkungan luar sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar. Peran guru disini adalah sebagai motivator, artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif, kreatif dan akrab dengan lingkungaan. Metode out door study in Tai pada pengajaran IPA menjadi sarana memupuk kreatifitas inisiatif kemandirian, kerjasama atau gotong royong dan meningkatkan minat pada Alam. (Nursid Sumaatmadja, 1996). Dengan demikian diharapkan metode out door study in TAI dalam pengajaran IPA dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas 3 SDN Kendangsari III Surabaya.

Pemilihan lingkungan di luar sekolah sebagai sumber belajar hendaknya disesuaikan dengan materi pelajarannya. Melalui metode Out door study in TAI, bentuk tugas yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan anak didik pada batas frekuensi yang tetap menggairahkan mereka sehingga tidak menimbulkan kebosanan dan kejenuhan.
 
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui “Melalui metode out door studyin TAI dalam meningkatkan minat & motivasi belajar IPA siswa kelas 3 SDN Kendangsari III Surabaya.
 
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat, bagi guru sebagai bahan masukan tentang penggunaan metode out door study in TAI dalam pembelajaran   IPA atu pelajaran lain dalam rangka menumbuhkan minat & motivasi belajar siswa, sedangkan untuk siswa diharapkan dapat menumbuhkan minat dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPA atau pelajaran lain.
 
METODE PENELITIAN
 
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SSDN Kendangsari III Kecamatan Rungkut Kota Surabaya, pada pertengahan bulan Oktober – Nopember 2007 pada mata pelajaran IPA kelas 3-A. Sekolah tersebut memiliki halaman yang sepanjang halaman tersebut ada tamannya. Siswa rata-rata berasal dan tingkat sosial ekonomi yang beragam.
 
Dalam penelitian tindakan kelas ini instrument yang digunakan adalah observasi / pengamatan untuk guru, angket dan catatan lapangan, lembar observasi digunakan oleh kolaborator untuk mengamati guru pada saat pelaksanaan KBM. Angket diberikan kepada siswa setelah penelitian tindakan pada sikius I dan sikius II untuk mengukur minat siswa terhadap pelajaran IPA. Sedangkan catatan lapangan dilaksanakan pada saat KBM sedang berlangsung dengan harapan dapat memperoleh beberapa temuan / data tentang kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
 
Pada penelitiaan tindakan ini menggunakan 2 (dua) siklus yang masing-masing siklus terdiri 2 kali pertemuan. Tiap pertemuan waktunya 2 x 35 menit. Hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu dan penelitian ini menyesuaikan dengan pokok bahasan yang ada di kelas 3. Masing-masing siklus dilaksanakan dengan dilengkapi instrumen / alat observasi. Siklus pertama dirancang dengan dasar refleksi awal, selanjutnya siklus kedua didasarkan atas refleksi siklus pertama.
 
PELAKSANAAN PENELITIAN
 

Siklus Pertama


Guru sudah menentukan lokasi di luar kelas untuk melaksanakan penelitian yang berada di luar sekolah (halamn sekolah). Kemudian guru membentuk kelompok yang anggotanya 5 anak secara heterogen.
 
Guru membuat panduan belajar siswa pada waktu belajar diluar kelas yaitu guru memberi tugas kepada kelompok (tim) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota tim. Anggota yang tahu menjelaskan pada pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
 
Guru sudah menetapkan tema  /materi pembelajaran. Pertemuan 1 adalah mengidentifikasi berbagai macam gerak benda, pertemuan 2 adalah mengidentifikasi hal-hal yang mempengaruhi gerak benda.

Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan awal :
·      Guru memberi salam.
·      Guru mengajak siswa untuk ke lokasi di luar kelas.
·      Guru menyuruh siswa berkumpul menurut timnya.
·      Guru memberi motivasi pada siswa tentang pentingnya lingkungan sebagai sumber belajar termasuk sarana halaman yang ada di sekitar sekolah.
·      Guru memberikan panduan belajar siswa selama ±15 menit pada waktu belajar diluar kelas yaitu guru memberi tugas kepada kelompok (tim) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota tim. Anggota yang tahu menjelaskan pada pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.

Kegiatan inti:

·      Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi untuk melakukan pengamatan dan diberi waktu ± 30 menit.
·      Guru membimbing siswa selama kegiatan di lapangan.
·      Selesai kegiatan siswa di suruh berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil pengamatannya.
·      Guru menginstruksikan pada timnya agar anggota timnya paham dan mempertanggung jawabka hasil pengamatan tersebut.
 
Kegiatan akhir :
 
·      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan / kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran.
·      Guru memberikan kesimpulan selama  ± 25 menit berma siswa.
a.    Kegiatan pengamatan / observasi dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan di atas yang dilakukan oleh kolaborator. Adapun hal-hal yang diobservasi meliputi :
o Urutan langkah-langkah pelaksanaan KBM
o Kegiatan siswa dalam kerja kelompok
o Aktifitas guru dalam mengelola KBM di luar kelas
o Monitoring angket siswa

b.    Refleksi :
Refleksi  dilakukan  untuk  mengamati pelaksanaan tindakan dan hasil kerja siswa pada siklus I, maka perlu adanya perbaikan-perbaikan diantaranya dalam pengelompokan siswa, lokasi yang kurang sesuai, keterbatasan waktu (karena banyak waktu yang terbuang), dan konsentrasi / perhatian siswa mudah berubah.
   
SIKLUS KEDUA

a.    Perencanaan tindakan pada siklus kedua dilakukan dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I, antara lain :

o  Menentukan lokasi yang lebih tepat / sesuai dengan tema.
o  Membuat panduan belajar siswa yang mudah dipahami oleh siswa.
o  Menyiapkan waktu yang tepat agar tidak banyak waktu yang terbuang.
o  Kelompok siswa disusun secara variatif agar merata antara kemampuan masing-masing siswa.
o  Menetapkan pokok bahasan / tema yang lebih menarik. Pertemuan 3 yaitu membuat daftar contoh penggolongan sesuai dengan gerakannya,   perternuan 4 mengenai penerapan berbagai gerak benda untuk berbagai keperluan.

b. Pelaksanaan tindakan

Kegiatan awal :

·      Guru langsung mengajak siswa ke lokasi.
·      Guru meminta siswa berkumpul sesuai kelompoknya.
·      Guru membuka pelajaran dan memberi motivasi yang lebih meningkatkan antusias siswa selama ±15 menit.
 
Kegiatan inti :
 
·      Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi yang sudah ditentukan.
·      Guru membimbing siswa selama pengamatan.
·      Selesai waktu yang sudah ditentukan guru mengajak siswa berkumpul kembali untuk diskusi hasil pengamatannya.
·      Guru memandu diskusi dan siswa diberi kesempatan memberi tanggapan waktu yang disediakan waktu ± 30 menit .
 
Kegiatan akhir :
 
·      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan / kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran.
·      Guru memberikan kesimpulan bersama siswa ± 25 menit.

Kegiatan pengamatan / observasi dalam siklus kedua ini tampak beberapa perubahan yang dialami siswa, yaitu semangat, pemahaman siswa terhadap pelajaran, keberanian siswa mengemukakan pendapat dan kreatifitas / keaktifan siswa mengalami peningkatan semangat siswa yang semula 85% menjadi 95%, pemahaman siswa yang semula 80% menjadi 90%, keberanian berpendapat yang semula 75% menjadi 85%, dan keaktifan siswa yang semula 85% menjadi 90%.

c. Refleksi
 
Dalam siklus ke 2 ini ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, yaitu kerja kelompok cenderung berdominan anak tertentu saja yang bekerja, konsentrasi siswa mudah sekali beralih karena di luar kelas sering kali banyak gangguan misalnya suara bising, cuaca di luar kelas yang tidak menentu misalnya hujan atau angin dan lain-lain. Hal tersebut menuntut kepandaian guru untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan,
 
KESIMPULAN DAN SARAN
 
Kesimpulan
 
Metode Out door study in TAI berhasil meningkatkan minat belajar siswa kelas 3 pada materi pelajaran IPA. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan dalam 2 sikius, antara lain :

a.  Metode out door study in TAI menjadikan siswa lebih bersemangat dalam belajar, lebih berkonsentrasi pada materi, membuat daya pikir siswa lebih berkembang, suasana belajar lebih enjoy, siswa lebih dapat memahami materi pelajaran, siswa lebih berani mengemukakan pendapat dan membuat siswa lebih aktif dan bertanggung jawab pada argumen hasil pengamatan.

b.  Metode out door study in TAI  lebih efisien dan etektif jika diterapkan dengan baik, terutama pada mata pelajaran IPA yang ruang lingkup pengajarannya sebagain besar alam lingkungan dan kehidupan yang menjadi ciri khasnya.
 

SARAN

 
1.    Guru IPA dapat menerapkan metode out door study in TAI melalui karyawisata ke tempat-tempat tertentu dengan harapan minat siswa terhadap pelajaran IPA semakin meningkat.
2.    Kepala sekolah hendaknya lebih banyak memberikan motivasi kepada guru mata pelajaran yang lain selain geografi agar dapat menerapkan metode out door study dalam pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi, Suhardjono dan Supardi, dalam bukunya Penelitian Tindakan Kelas
Effendi. 1995. Filsafat Komunikasi. Bandung; Remaja. Rosdakarya.
Karjawati, 1995. Hubungan antara penggunaan metode mengajar, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dan pengataman mengajar guru dengan tingkat motivasi beiajar  di Kotamadya Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang. Program Sarjana IKIP Malang.
Sumaatmadja, N. 1997. Metodologi pengajaran geografi. Bandung. Bina Aksara
Walgito, B. 1981. Bimbingan penyuluhan di sekolah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
The Liang Gie. 1985. Cora Belajar efisien. Yogyakarta: UGM Press.
Syaifullah. M. 1995. Motivasi belajar pembelajaran dan upaya-upaya peningkatannya. Malang: IKIP Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar